Langsung ke konten utama

Unggulan

Twiti Twenty Twitter Disney

Kata cinta untuk seorang adik yang bernyanyi Peradilan negeri yang masih ternaungi Disana mungkin mereka sudah mulai sembunyi Dari nama twiti yang ada di tempat yang wangi Pembagian harapan yang dulunya masih twenty Dari umur yang masih mudah untuk Sporty Berkuncung dengan harapan masih bercerita Dalam segala pengajuan orang lain yang diderita Bagi mereka itulah contoh suasana twiter Makanan kecil dari jagung yang sekarang twister Dinding mading masih menyatakan banyak monster Tapi aku yakin ini semuanya hanya master Di dunia Disney Land yang sekarang berkarir Dahan cinta daun yang hijau mulai khawatir Akankah terucap kepada orang lain Seandainya perkenalan adalah titik jumpa melanin Dari hormon hati yang masih untuk menyatu Oleh mereka yang masih menyembunyikan mantu Dari adat istiadat yang dulunya diera batu Tapi aku rasa aku bukan orang yang sulit membantu Dari pertemuan hati ini yang sebenarnya semboyan Mungkin lain hari mereka masih khayalan Karena akulah ora...

Briliant C.Copent

Dari pengampu apa daya dari berangkat
Serdari diriku tiada tara mencinta waktu
Berkelana menyortir apa yang ada dalam predikat
Melayu dalam wahana gemerlap kehidupan satu
Tabir surya yang kadang terbiasnya malam
Melanin yang semakin menipis dari organku
Terjebak dan terjerumuskan hidup dalam perantian
Tanda adzan yang kadang mebahana kalam
Janin yang seharusnya terlatih untuk jantungku
Meruji dan juga mengerigil dampak pertatian
Terkejut aku mendengar kisahmu di jendela berita
Antara batu dan karang yang terlontarkan
Derita apa ya Tuhan tentang keadaan cerita
Sembarı aku tertidur dalam lautan asmara berantakan
Sepoi-sepoi goyangan daun membahana ruangan
Mentari tiada hari tampa solusi sebuah keuangan
Bersandar dari derasnya ombak yang menerpa
Terbalutkah diriku tergoda suasana harpa
Mengendap dari anah aluran yang sesuai jalurnya
Menitih perih apa yang tersandar dara benggala
Merintih perih,pedih,dan sedih tanpa haru berhala
Menyaringkan datarnya alur sebuah simponi pantunnya
Dari sebuah pikiran briliant Colombus Copent
Sebuah karya harta warisan Constantinopel

Komentar

Postingan Populer